Home » Kolom » Kenanangan Bersama Pak Nanang

Kenanangan Bersama Pak Nanang

Mohon maaf sebelumnya saya menulis samasekali tidak berarti bahwa perjuangan rekan/Bapak/Ibu tidak terekam oleh pendeknya pandangan saya, hanya saja sehubungan dengan beberapa kesempatan saya bermualah dengan Beliau (Nanang Sugiarto) maka izinkan saya menata ulang memori saya untuk mengenang beliau sebagai seorang kader PKS sejati.

Kabar Pagi Hari

Pagi itu rencana saya dan keluarga untuk menghadiri acara walimahan seorang teman bubar seketika setelah mendapatkan SMS dari Sekretaris Umum DPD PKS Kota Malang bahwa Pak Nanang yang selama ini saya kenal dekat telah berpulang kerahmatullah.

Pak Nanang memang terserang penyakit unik, bobot tubuhnya terus berkurang, dokter sempat memvonis beliau terkena flu tulang. Namun, sebelum Idul Fitri (tahun 2011 yang lalu) fisik beliau tiba-tiba drop sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit. Sejak itu Pak Nanang menjadi pelanggan Rumah Sakit. Hasil observasi dokter menyebutkan ada tumpukan cairan di paru-parunya. Cairan inilah yang harus dikeluarkan. Sukses upaya ‘pengeringan’ paru-parunya, rupanya cairan tersebut merembes ke Jantung, inilah yang membuat Jantung Pak Nanang bengkak sehingga membuat beliau beberapa kali koma dalam sebulan terakhir.

Ingatan saya langsung flashback pada Pilkada Kota Malang 2008. Saat itu saya dipercaya menjadi tim Humas. Malam itu, HP saya berdering, rupanya ada panggilan bahwa terjadi pemukulan kepada salahseorang kader PKS yang sedang melakukan penempelan poster Achmad Subchan, calon Walikota yang diusung PKS saat itu. Malam itu saya langsung meluncur ke Celaket Gang 5, lokasi pemukulan. Usut-punya usut rupanya kader yang dipukuli adalah Pak Nanang, orang yang dekat dengan saya di kemudian hari. Saya langsung meluncur ke Polresta Malang bersama beberapa orang kader dan Pengurus PKS. Pak Nanang, sedang diinterogasi, sosoknya yang apa adanya menceritakan detail bagaimana beliau dipukuli. Yang saya heran, kader dari partai lain sudah siap-siap rupanya untuk melakukan intimidasi (pemukulan) namun Pak Nanang tetap keukeuh menempel poster karena sesuai instruksi. Jangan tanya yang memukuli Pak Nanang, bukan satu orang tapi sedikitnya 5 orang. Berikut beritanya di Okezone yang masih ada hingga saat ini: (http://news.okezone.com/read/2008/05/28/230/113155/3-pendukung-cawali-malang-ahmad-subchan-dikeroyok)

Rajin Shalat Jamaah

Di Rumah duka, banyak sekali kader PKS yang datang. Setahu saya, baru kali ini ada kader PKS meninggal di Kota Malang yang pelayatnya sebanyak ini. Sebagian duduk-duduk, sebagian menyiapkan semua keperluan pemakaman. Istri beliau memang sempat  meminta bantuan kepada Kader yang berkesempatan hadir untuk mensholatkan sekaligus membantu prosesi pemakaman Pak Nanang. Disela-sela prosesi pemakaman saya berusaha mencari tahu alasannya. Rupanya sosok Pak Nanang memiliki kesan hampir di semua kader PKS. Abu Hadziq misalnya, Ketua DPC PKS Klojen ini mengungkapkan militansi Pak Nanang, “Dalam kondisi apapun Pak Nanang jika ada perintah dari kepanduan (PKS) mesti berangkat, Sur’atul Istijabah beliau luarbiasa,” pungkas ketua DPC PKS Klojen ini. Lain halnya dengan Mamak, Ketua DPRa PKS Pandanwangi ini mengungkapkan kenal dengan Pak Nanang ketika memesan stempel untuk tokonya, “saya berinteraksi sekali, tapi saya ingat sekali” ujar Mamak. Lain halnya dengan Lukman, seorang sahabat dekat Pak Nanang mengungkapkan betapa komitmen beliau untuk melakukan shalat jamaah, “Bagaimanapun kondisinya, Pak Nanang sangat komitmen dengan Shalat Jamaah,” ujar Lukman.

Beberapa kali ke Rumah Sakit tempatnya dirawat, saya pribadi mendapatkan cerita menarik dari istri beliau. Bahwa komitmen seorang Pak Nanang untuk melakukan shalat tepat pada waktunya (bahkan ketika baru saja siuman setelah pingsan selama 4 hari). Saya tecenung, Pak Nanang sudah punya bekal, mudah-mudahan jalannya terang seterang komitmennya untuk memenuhi panggilan Rabbnya.

Akhir Perjalanan

Jam 10.30, mobil ambulan yang akan mengangkut jenazah ke pemakaman sudah siap, Pak Ahmadi, Wakil Ketua DPRD Kota Malang langsung yang menyetir mobil tersebut. Tepat pukul 11.00, iring-iringan jenazah meninggalkan rumah duka, menuju peristirahatan Pak Nanang yang terakhir. Saya tercekat, secepat itukah memori kami akan kebersahajaan, militansi dan kejujuran seorang makhluk Allah yang bernama Nanang Sugiarto ini berakhir? Pikiran lain saya, Pak Nanang dicintai oleh kami semua, namun Allah lebih mencintainya. Umur 44 tahun Allah sudah memanggilnya, selamat jalan Pak Nanang.

Marliyoni Azar*

*Humas DPD PKS Kota Malang

Print Friendly, PDF & Email

Check Also

Tata Cara Berkurban Ala Rasulullah

Sebentar lagi Idul Qurban akan menghampiri kita. Hampir semua muslim bersukacita menyambut datangnya Hari Raya ...

2 comments

  1. masih sulit buat berkata kata bila mengenang beliau yang begitu tsiqoh dan patuh terhadap para qiyadah…

  2. masih sulit buat berkata kata bila mengenang beliau (alm) yang begitu tsiqoh dan patuh terhadap para qiyadah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.